Chat with us, powered by LiveChat
selamat datang di kingkongBOLA.com, DAPATKAN PROMO MENARIK Cashback sd 10%

Aksi Diving Neymar di Piala Dunia 2018 Menuai Banyak Pro dan Kontra

Aksi Diving Neymar di Piala Dunia 2018 Menuai Banyak Pro dan Kontra

Siapa yang akan lupa dengan mudahnya tentang kejadian mengejutkan sekaligus mengecewakan terkait aksi Neymar Jr. Pemain berasal dari timnas Brazil ini memang sangat populer karena termasuk sebagai pesepakbola kelas dunia paling diperhitungkan. Namanya dijejerkan dengan Christiano Ronaldo dan Lionel Messi dimana usia serta pengalaman bermain lebih lama ketimbang dirinya. Namun potensi dari Neymar begitu cepat meskipun usianya baru saja 26 tahunan. Akan tetapi ketika laga Brazil mewalan Meksiko pada tanggal 2 Juli kemarin sungguh menciptakan suasana menjadi tak karuan dimana sang idola seketika itu juga membuat ilfeel sebagian besar pengagumnya. Neymar melakukan drama atau diving di tengah lapangan terlalu berlebihan. Miguel Layun, salah seorang penyerang Meksiko secara tak sengaja menginjak pergelangan kaki kanan sehingga membuatnya berguling dan meronta. Hal tersebut membuat kondisi lapangan terdiam dan secara otomatis kebingungan karena tak menyangkan jika Neymar akan melakukan hal memalukan.

Beberapa pihak lantas mengecam karena pemain Brazil tersebtu memang sedang ber-diving seperti yang sudah biasa dilakukan pada laga sebelumnya di Piala Dunia 2018. Terlebih lagi saat wasit tak memberikan pelanggaran apapun kepada tertutuh, Miguel Layun dan tetap melanjutkan permainan seperti biasa. Pada saat itu Neymar langsung berdiri kembali dan berjalan selayaknya orang normal yang tak mengalami kecelakaan tragis sama sekali. Inilah yang kemudian membuat banyak orang menjadi muak akan aksi drama tersebut dimana Neymar terlihat sangat kesakitan seperti terhantam keras dan cidera patah kaki. Padahal kondisinya baik-baik saja tanpa memar ataupun terluka parah akibat injakan Layun. Sementara itu pelatih Meksiko menyayangkan timnya membuang waktu sia-sia sekaligus kehilangan peluang merebut bola dan menyamakan kedudukan.

Diving dalam Sepak Bola Sudah Biasa

Diving bukanlah menyelam di dalam air tetapi sebutan bagi para pemain sepak bola yang tengah melakukan akting, berpura-pura atau drama di tengah lapangan dengan tujuan tertentu. Biasanya mereka akan memulai aksi tersebut jika merasa terhimpit lawan dan terancam. Adapun beberapa tujuannya yaitu untuk mengambil alih perhatian, memunculkan peluang merebut bola, mengintimidasi, bahkan membuat lawan yang dianggap berbahaya keluar dari permainan. Dengan begitu tidak ada lagi ancaman menghalangi kesempatan bagi suatu tim memenangkan suatu turnamen. Kejadian ini sangat sering ditemukan pada laga Piala Dunia karena tiap pemain tentu saja ingin merebut serta berusaha menyamakan skor terhadap lawan bermainnya. Tak hanya Neymar tetapi masih banyak lagi pesepakbola mengandalkan diving sebagai senjata paling ampuh untuk mendapatkan sebuah peluang besar, diantaranya:

  1. Pada saat Piala Dunia 1990, Jurgen Klinsmann pemain timnas Jerman menggunakan diving untuk menipu wasit Edgardo Codesal. Ketika itu sedang bermain bersama Argentina di babak final sehingga membuat dirinya merasa terancam. Klinsmann memang terkena hantaman Pedro Monzon pada bagian kaki dan membuatnya langsunng meronta-ronta kesakitan kemudian terkapar di tengah lapangan. Tidak ada luka ataupun cidera parah sama sekali tetapi drama tersebut membuat Monzon harus keluar permainan karena mendapatkan kartu merah.
  2. Selain itu ada lagi aksi diving dari Sergio Busquets pada Liga Champions 2010 yang membuat Thiago Motta berhenti berlaga. Pasalnya, Busquets berpura-pura melakukan penipuan mengalami cidera dan diserang secara sengaja oleh lawan mainnya tersebut. Bahkan dirinya sendiri mengakui tetapi tak ingin dikatakan curang melainkan berlaku cerdas saat sedang pertanding.
  3. Selanjutnya adalah Luis Suarez yang mempunyai kebiasaan diving sangat unik. Ia seringkali menggigit lengan lawan jika sudah merasa terancam atau bolanya berhasil direbut. Ketika masih menjadi pemain Liverpool, Suarez tiba-tiba terjatuh saat dikelilingi tiga pemain Stoke City sehingga memberikan kesan dikroyok. Ketika video pertandingan diputar ulang, tidak ada satupun pemain menyentuh apalagi melakukan kekerasan terhadapnya. Karena sudah ketahuan maka ia mengaku jika semuanya hanya settingan belaka namun dengan pembelaan diri agar tak dianggap curang.
  4. Pemain Manchester United di Liga Champions 2015, Ashley Young pernah mendapatkan pelanggaran dari Paul Scholes. Ia ketauan melakukan drama diving lapangan supaya bisa menang dan skornya lebih unggul.
  5. Piala Dunia 2014 juga pernah dikotori dengan berbagai macam aksi curang berkedok diving. Ketika Belanda melawan Meksiko, Arjen Robben sengaja menjatuhkan dirinya karena dijegal oleh Rafael Marquez tanpa adanya cidera parah sama sekali. Karena reaksi berlebihan maka wasit segera ambil tindakan dengan memberikan Belanda penalti di menit ke-94 dan akhirnya mereka menang dengan skor 2-1 terhadap Meksiko.

Banyak Pihak Menanggapi Aksi Menyelam Neymar

Bila dibandingkan dengan beberapa contoh kejadian diving di pertandingan Piala Dunia maupun laga internasional sebelumnya, aksi Neymar dianggap paling TOP. Hal ini karena ia telah memenuhi semua syarat, diantaranya menggunakan diving secara berulang kali, menipu wasit agar dapat keuntungan, dan punya banyak variasi gaya diving seperti terkapar, berguling-guling, ataupun terjerembab. Kemudian hal tersebut menggiring begitu banyak opini dari berbagai macam pihak seperti pelatih Meksiko yang tentu sangat dirugikan karena aksi Neymar sangat kecewa. Begitu pula sang pemain bola Legendaris, Maradona menganggap tingkat Neymar kekanakan dan seharunya dapat tampil dewasa. Akan tetapi tanggapan Ronaldo berbanding terbalik dimana menilai jika Neymar sudah benar dalam mencegah terjadinya kecurangan ataupun serangan mendadak yang ditujukan terhadapanya. Jadi divinng tersebut sebagai bentuk tameng diri, mengingat ia merupakan pemain paling ditakuti serta mengancam posisi timnas lawan.

Sementara itu, salah satu berita di New York Times dengan judul Neymar and the Art of the Dive menjadi perbincangan menarik bagi masyarakat. Tokoh seni peran juga memberikan tanggapan atas aksi drama tersebut yaitu Jim Cadler yang merupakan dosen di Tisch School of the Arts New York University. Cadler mengaku jika tindakan Neymar sama persis seperti para siswanya yang masih ada di bangku pemula atau bisa dikatakan belum dilakukan secara profesional. Hal ini dikarenakan ekspresi dan reaksinya kurang natural, meronta-ronta, berguling sambil terkapar di tengah lapangan mengingat hanya bagian pergelangan kaki saja yang terinjak. Padahal pemain dengan luka parah seperti patah kaki ataupun cidera lain, secara otomatis akan terdiam karena kaget dan mengungkapkan kesakitan tanpa harus berteriak tak karuan.

Diving sepanjang Piala Dunia memang masih menjadi perkara rancu, dalam arti belum ditemukan titik terangnya. Terkadang wasit juga merasa serba salah dalam menentukan antara korban dan pelaku. Terlebih lagi pemain seperti Neymar berusaha melakukan diving dengan berbagai macam cara, mulai dari berguling, berteriak, tersungkur, terkapar dan lain sebagainya sehingga membuat wasit kebingungan dibuatnya. Sebaiknya pihak FIFA meningkatkan sistem pengawasan selama pertandingan sekaligus membuat semacam tim pemeriksa. Tugas mereka adalah untuk terjun ke lapangan dan mengecek langsung keadaan para pemain jika terjadi insiden ataupun kecelakaan, lebih tepatnya mengetahui apakah korban memang cidera atau hanya diving saja.


Artikel Terkait Berita Bola

WhatsApp chat