Chat with us, powered by LiveChat
selamat datang di kingkongBOLA.com, DAPATKAN PROMO MENARIK Cashback sd 10%

Kisah Panjang Romelu Lukaku, Singa di Timnas Belgia Keturunan Kongo

Kisah Panjang Romelu Lukaku, Singa di Timnas Belgia Keturunan Kongo

Salah satu pemain paling handal besutan tim nasional Belgia yaitu Romelu Lukaku memang patut diacungi jempol. Pria berkulit gelap ini turut berlaga di ajang Piala Dunia Rusia 2018 yang telah dimulai sejak tanggal 14 Juni kemarin dan berakhir di babak final 15 Juli 2018 mendatang. Lukaku mewakili Belgia yang merupakan negara tempat sekarang tinggal, meskipun pada dasarnya ia keturungan Afrika tepatnya wilayah Kongo. Namanya sudah melambung sejak lama bahkan ia merupakan satu-satunya pemain timnas belgia paling potensial dan punya perkembangan pesat bila dibandingkan dengan lainnya. Nama-nama besar seperti Kevin de Bruyne, Alex Witsel, Eden Hazard, Vincent Kompany, dan Dries Mertens merupakan generasi emas tetapi masih kalah cepat dengan kemajuan Lukaku. Bukan hanya karena telah menapaki jejak sebagai pemain sepak bola sejak 16 tahun saja melainkan dirinya mendapat banyak gemblengan dari berbagai pelatih profesional. Bahkan ia menjadi salah satu pemain paling mahal ketika bermain di Manchecter United sehingga pihak Belgia mengajaknya bergabung di tim.

Masa Kecil Romelu Lukaku di Belgia

Ketika masih kecil, Lukaku tinggal di negara Belgia dimana hidup dengan keluarga sangat melarat. Meskipun bakat sepak bola diturunkan dari sang ayah yang menjadi salah satu pemain semenjana Zaire, tetapi tidak membuat hidupnya bergelimang kemewahan bak anak Ronaldo ataupun lainnya. Pendapatan ayahnya tidaklah tentu dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari karena kariernya sebagai pemain bola sudah hampir habis.
Sementara sang ibu juga berasal dari keluarga yang sederhana dimana tak mempunyai warisan besar seperti wanita pada umumnya. Hampir tiap minggu, sang ibu selalu mampir ke warung terdekat hanya untuk berhutang makanan yaitu sepotong roti yang akan dibayar pada akhir pekan. Rumah Lukaku bisa dikatakan kosong karena berbagai macam perabotan harus rela dijual demi memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan tiap rumah mereka selalu gelap karena tak mampu membayar iuran listrik sehingga pemerintah terpaksa memutus sambungannya. Setiap hari dilalui serba kekurangan bahkkan mereka berbagi makanan, susu, dan air hangat untuk mandi saat musim dingin tiba. Lukaku menganggap kondisi keluarga mereka melarat dan kemudian membuatnya bersumpah ingin memperbaikinya suatu saat nanti.

Mengawali Cita-Cita Sebagai Pemain Bola

Berbekal keinginan membahagiaan orang tua serta memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya, Lukaku mulai belajar bermain sepak bola. Pada waktu itu usianya masih belia yaitu enam tahun namun sudah memanntapkan niat menjadi salah satu pemain bola profesional di dunia. Ia kemudian menyampaikan hal tersebut kepada ibunya yang tengah menangis selepas pulang sekolah.

Lukaku tumbuh menjadi remaja betubuh besar, berkulit gelap namun kekar. Dengan bekal fisik seperti itu, ia mampu menggiring dan memainkan bola dengan mudah dibandingkan teman seusianya. Meskipun begitu dirinya tetap saja mendapatkan ejekan serta hinaan dari orang lain. Contohnya ketika bermain di tim junior Lierse, ia sempat dianggap menyalahi aturan karena seperti remaja bertubuh paling tinggi namun malah masih bermain di kelas anak-anak. Terlebih lagi kemampuan sepak bolanya juga sangat bagus sehingga membuat para orang tua siswa lain menjadi sangat iri dan menyalahkan atas kelebihan fisik tersebut. Ia sampai harus menunjukkan identitas diri agar orang lain percaya jika usianya baru menginjak 11 tahun dan merupakan warga asli Belgia. Selain itu tim Anderlecht juga sempat dimasukinya untuk mengasah kemampuan supaya lebih berkembang.

Perjalanan Lukaku meraih cita-cita sebagai pemain papan atas ternyata sangat panjang bahkan ketika sudah masuk ke tim besar Belgia, ia masih saja mendapatkan perlakuan tak menyenangkan. Ia sendiri menceritakan kalau mendapatkan banyak tekanan dari negara sendiri dimana orang-orang mencaci dan menghinanya. Alasan utama adalah karena Lukaku merupakan keturunan Kongo, salah satu negara di Benua Afrika. Terlebih lagi ketika sedang bermain buruk atau hanya melakukan sedikit saja kesalahan maka ribuan cacian akan menghujam dirinya. Parahnya lagi mereka akan melakukan tindakan rasisme mengenai bentuk fisik dan ras yang melekat padanya yaitu sebagai keturunan Kongo. Ia berkata, meskipun mempunyai kulit gelap dan leluhurnya dari Afrika namun tanah airnya tetap di Belgia.

Bermain di Piala Dunia 2018

Karena permainan Lukaku selalu berkembang terus-menerus, akhirnya ia berhasil menjadi pemain di Manchester United dan berlaga di dalam Piala Dunia 2018. Karena ia jugalah Belgia mampu bertahan sampai ke babak semifinal bersanding dengan tim nasional unggulan dari negara lain seperti Brazil, Inggris, Kroasia, dan lainnya. Kemudian ada satu cerita menarik saat laga Piala Dunia 2018 saat Belgia melawan Perancis dimana salah satu bek lawan, Raphael Varane mengeluhkan soal Lukaku. Ia mengaku jika pemain keturunan Kongo tersebut sulit ditaklukan, tak hanya karena permainannya lincah tetapi juga tubuh tinggi dan besar. Fisiknya itu merepotkan posisi pertahanan tim manapun yang akan berhadapan dengan mereka sehingga Lukaku bisa dengan mudahnya merebut kembali bola dan menggiringnya ke dalam gawang.

Prestasi Lukaku tidak terhenti sampai disitu saja, ia menjadi satu dari sembilan penyerang kontroversial di dunia. Kakinya yang panjang dapat membuat pergerakan menjadi lebih cepat dan gesit. Seperti saat itu, Lukaku selalu saja berhasil memberikan umpan empuk kepada para partner timnya dalam pertandingan. Salah satunya membuka peluang bagi Nacer Chadli untuk mengeksekusi bola hingga berakhir ke gawang kipper Jepang. Hal ini juga berlaku ketika tengah melawan Brazil di perempat final Piala Dunia 2018 kemarin. Saat itu Brazil yang dimotori oleh Neymar setelah aksi diving dan drama lapangan berhasil mengalahkan Meksiko meskipun dikritik banyak pihak. Akan tetapi Brazil tetap tak mau kalah dan menang telak atas lawannya. Banyak orang mengira kalau negara tersebut bakal menang namun ternyata Belgia mampu memimpin skor lebih tinggi. Lukaku berperan sebagai striker, menerima bola dari daerah pertahanan dan mengopernya ke De Bruyne. Satu goal berhasil tercipta karena umpan jitu dari sang singa Kongo.

Romelu Lukaku, pemain asli Belgia namun berasal dari Kongo telah membuktikan pada dunia jika ia mampu menjadi pesepakbola terkenal. Bukan hanya karena bayaran mahal saja melainkan pengakuan atas potensi yang telah dibangun sejak usianya masih enam tahun dilatar belakangi dengan kemelaratan hidup. Semuanya berhasil ditunjukkan ketika Lukaku masuk ke babak perempat final Piala Dunia 2018 melawan Brazil, salah stau negara dengan pemain bola paling ditakuti. Menurut pengakuannya, semua jerih payah tersebut dapat direalisasikan karena niat balas dendam terhadap kehidupan sebelumnya. Dari seorang anak dengan keluarga melarat, makan dan mandi serba susah tetapi kini menjadi salah satu pemain berpendapatan tinggi dan sangat diperhitungkan. Bermain dalam Liga Champions, Piala Dunia dan berbagai pertandingan kelas dunia sudah kenyang dicicipi olehnya. Meskipun begitu ternyata ada banyak cerita pahit melatarbelakangi kesuksesan tersebut dimana akan menjadi catatan sejarah sekaligus pelajaran bagi masyarakat luas.


Artikel Terkait Berita Bola